Menyikapi Pelarangan Study Tour di Jawa Barat: Antara Beban Biaya dan Esensi Pendidikan Karakter


Baru-baru ini, Gubernur Provinsi Jawa Barat mengeluarkan kebijakan pelarangan study tour ke luar kota bagi siswa SD, SMP, dan SMA. Alasan utama kebijakan ini adalah kekhawatiran akan membengkaknya biaya yang memberatkan orang tua, serta praktik pelaksanaan yang cenderung lebih bersifat rekreatif daripada edukatif. Kebijakan ini menuai pro dan kontra. Sebagian orang tua menyambut baik karena menghindarkan mereka dari beban finansial, namun sebagian orang tua dan yang paling terdampak yaitu pelaku usaha tour & travel menilai pelarangan ini sebagai langkah yang terburu-buru dan tidak menyentuh akar persoalan.

Sebagai pelaku usaha tour & travel kami menilai bahwa yang seharusnya dilakukan adalah evaluasi menyeluruh terhadap konsep dan pelaksanaan study tour, bukan menutup peluang pembelajaran luar ruang tersebut secara sepihak. Study tour yang dirancang dengan matang, terstruktur, dan selaras dengan kurikulum bisa menjadi bagian penting dalam pembentukan karakter, kepemimpinan, dan wawasan kebangsaan peserta didik.

Kegiatan ini sebenarnya sejalan dengan semangat Kurikulum Merdeka yang mendorong pembelajaran berbasis pengalaman dan proyek (P5). Sayangnya, memang banyak sekolah yang belum memiliki panduan jelas atau bekerja sama dengan pihak profesional yang memahami aspek edukasi dalam pariwisata. Di sinilah pentingnya regulasi, pengawasan, dan kemitraan yang sehat antara sekolah, pemerintah, dan pelaku usaha.

Pelaku tour edukatif justru siap bertransformasi dan bersinergi dengan dinas pendidikan untuk menghadirkan pengalaman belajar yang lebih murah, aman, dan bermakna. Banyak potensi wisata edukatif lokal yang bisa dioptimalkan seperti museum, desa wisata & budaya, edukasi alam, tour keberagaman dan jenis study tour lainnya yang memiliki keselarasan nilai dengan kurikulum pendidikan. Maka dari itu yang dibutuhkan adalah pedoman kurikulum yang mengikat dan kontrol mutu pelaksanaan, bukan larangan menyeluruh.

Jika kita ingin membentuk generasi yang tangguh, berwawasan kebangsaan, dan punya empati sosial tinggi, maka ruang-ruang belajar di luar kelas seperti study tour harus dibuka dan ditata, bukan ditutup. Sudah saatnya kita melihat kegiatan ini sebagai bagian dari investasi karakter bangsa asal dilakukan dengan etis, inklusif, dan terarah.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *